Tuesday, October 11, 2016

PANDANGAN ISLAM TENTANG "HUKUM KARMA"

Soalan; ustaz, apakah Diterima hukum karma di dalam islam. Mohon penjelasan ustaz.

Jawapan;

"Hukum Karma" adalah konsep aqidah dari agama Hindu dan Budha. Pada luarannya ia adalah hukum sebab dan akibat (Baik mengakibatkan keelokan, jahat mengakibatkan keburukan). Hukum sebab dan akibat diakui oleh Islam, namun ia tidak berjalan sendiri, sebaliknya ia sebahagian dari sunnatullah. Menurut Islam, tidak ada yang berlaku di alam tanpa tertakluk kepada ketentuan Allah atau takdirNya.

Itu dilihat pada luaran hukum karma. Jika dibaca lebih lanjut tentang hukum karma, hakikat hukum karma terlalu jauh menyimpang dari aqidah Islam.

Di antara yang ditulis dalam Wikipedia versi Indonesia tentang hukum karma; "Sang Buddha menguraikan tentang Hukum Karma : 'Takdir adalah karma dari kumpulan perbuatan masa lalu. Karma masa lalu menjadi takdir pada kehidupan yang sekarang. Karma saat ini adalah pembentuk kehidupan selanjutnya" (https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Hukum_Karma).

Dalam aqidah Islam, kehidupan kita hari ini tiada kaitan dengan karma masa lalu. Setiap bayi yang lahir, lahir di atas fitrah. Kelahirannya bukan dari karma dari yang silam, tetapi lahir dari takdir Allah, dengan kelahiran yang fitrah (bersih dari dosa dan tanggungan). Kerana itu para Fuqahak menegaskan; al-Asl baraatu az-zimmah (Asal setiap manusia adalah bebas tanggungan).

Disebutkan juga dalam sumber yang sama (contoh karma); "Kenapa di kehidupan ini anda hidup sebatang kara (anak yatim), Sebab di kehidupan yang lalu anda sering menembak burung".

Dalam akidah Islam, kehidupan kita yang lalu ialah kehidupan dalam perut ibu. Pada ketika itu, kita belum dianggap hidup, apatahlagi hendak dianggap mukallaf. Maka bagaimana orang yang belum hidup dan tidak mukallaf hendak dipertanggungjawabkan, kemudian dibalas dalam kehidupan hari ini bagi perkara yang dia tidak pernah lakukan.

Menurut aqidah Islam, manusia hanya akan dipertanggungjawabkan bermula dari saat dia akil baligh (mula dewasa dan berakal) dalam kehidupan di dunia ini. Dari saat itu perbuatan-perbuatannya dikira dan tertakluk dengan hukum-hakam Syariat Allah di dunia dan pembalasanNya di akhirat.

Wallahu a'lam.
Post a Comment